“KEBENARAN ESENSI DAN PRILAKU
SMART”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
1.
AHMAD
IMADI BATUBARA
2.
KHORUL
UMRI SIREGAR
3.
YENITA
BARUS
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Fiilasat Ilmu Pendidikan
Dosen : Prof.Dr.Belferik Manullang
KELAS 1 B1
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PROGRAM STUDI
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI MEDAN
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji penulis panjatkan
kehadirat Tuhan yang maha Esa, berkat anugerahnya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan.
Sehingga
dengan tersusunnya makalah ini, saya berharap orang yang membacannya terutama
kalangan pendidik dapat lebih memahami pentingnya “Pentingnya Berprilaku Smart dan
Kebenaran Esensi”.Kami menyadari Makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu kami berharap kritik, saran yang sifatnya membangun dari
semua pihak agar makalah ini lebih sempurna.
Dalam
kesempatan ini , penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
rekan Mahasiswa pasca sarjana Unimed Program Studi Administrasi Pendidikan kelas
1.B-1 terlebih khusus kepada Dosen pembimbing Mata kuliah ini ,BapakProf
.Dr.Belferik Manullang dan Ibu Prof.Dr.Sri Milfayetti, M.S.,Kons.
Medan, Oktober 2015
Penulis
Ahmad
Imadi Batubara
-i-
DAFTAR ISI
COVER
KATA
PENGANTAR ...........................................................................
i
DAFTAR
ISI .........................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................1
A. Latar
Belakang Masalah ..........................................................1
B. Rumusan
Masalah ....................................................................2
C. Batasan
Masalah.......................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
.................................................................3
A. Pengertian
Smart........................................................................3
B. Tujuan
Prilaku Smart.................................................................6
C. Kebenaran
Esensi Menggunakan Metode Smart.......................8
D. 5
Langkah Mewujudkan Prilaku Smart....................................11
E. Membangun
kebenaran Esensi dan prilaku Smart dalam Pendidikan ...............................................................................15
BAB III PENUTUP
.........................................................................18
1.
Kesimpulan
.............................................................................18
DAFTARPUSTAKA
..............................................................................iii
-ii-
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Krisis bangsa, atau krisis kehidupan adalah krisis sumber daya manusia,
terutama spiritualitasnya. Fenomena krisis hidup manusia tidak hanya
semata-mata krisis intelektual dan moral. Sedikit lebih dalam ke jantung
persoalan yakni krisis spiritual.
Hasil studi baru mengindikasikan bahwa sukses abad 21
tergantung optimasi spiritualitas. (The Spiritual Crisis of Man, Paul Brunton).
Krisis spiritual membuat seseorang cenderungmenjadi sumber atau bagiandari
masalah.
Sementara cerdas spiritual membuat seseorang cenderung menjadi solusi masalah. Krisis spiritual cenderung membuat orang yang pintar membuat masalah kecil menjadi semakin rumit, sementara cerdas spiritual membuat orang pintar berhasil menyederhanakan bahkan menyelesaikan masalah.
Karakter SMART fokus pada aktivasi spiritual yakni repsiritualisasi. Kembalilah kepada hal-hal spiritual seperti back to the nature, and back to the essence of life. Repsiritualisasi karakter dimulai dari kecerdasan yakni intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Tahapannya; thought - action - habit (pemahaman - tindakan - kebiasaan).
Sementara cerdas spiritual membuat seseorang cenderung menjadi solusi masalah. Krisis spiritual cenderung membuat orang yang pintar membuat masalah kecil menjadi semakin rumit, sementara cerdas spiritual membuat orang pintar berhasil menyederhanakan bahkan menyelesaikan masalah.
Karakter SMART fokus pada aktivasi spiritual yakni repsiritualisasi. Kembalilah kepada hal-hal spiritual seperti back to the nature, and back to the essence of life. Repsiritualisasi karakter dimulai dari kecerdasan yakni intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Tahapannya; thought - action - habit (pemahaman - tindakan - kebiasaan).
Pembentukan karakter memiliki beberapa
ciri:
a)
dilakukan oleh pendidik berkarakter
sebagai teladan
b) membutuhkan
waktu relatif lama,
c) karakter
bersumber dari kebenaran sesungguhnya,
d) membutuhkan
ketekunan, kesabaran, ketulusan untuk melakukan dengan konsisten.
-1-
Proses Pendidikan karakter SMART.
1) Latihan suka belajar dengan mengkondisikan suasana
di rumah, di tempat kerja, di sekolah dan usahakan menyediakan sumber-sumber
belajar yang menarik. Seperti perangkat perlengkapan belajar, buku-buku yang
menarik. Kendalikan selama periode tertentu, sampai akhirnya suka belajar.
2)
Latihan maniak kerja: bekerja dan menikmatinya, Kendalikan selama periode
tertentu sampai akhirnya maniak kerja.
3) Latihan altruis yakni melakukan pekerjaan
mengabdi dalam bentuk yang sederhana dan suasana yang menyenangkan, Kendalikan
selama periode tertentu, sampai akhirnya memiliki sifat altruis
4)
Latihan religius yakni mengikuti ibadah secara terus menerus, dalam suasana
yang menyenangkan dan melengkapi sumber-sumber pengetahuan religius. Kendalikan
selama periode tertentu sampai akhirnya memiliki sifat religius dan
5)
Latihan tulus yakni aktivasi hati (nurani) dalam berfikir dan berbuat.
Kendalikan selama periode tertentu sampai akhirnya memiliki sifat tulus.
B.Rumusan Masalah
Yang
menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Bagaimana Menerapkan
Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart ?
C.Batasan Masalah
Agar
masalah yang dikemukakan terarah , maka perlu pemabatasan masalah yaitu : Mewujudkan
Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart.
-2-
BAB III
PEMBAHASAN
- Pengertian Smart
Menuliskan sasaran pribadi butuh disiplin. Relatif mudah untuk menghayal,
berangan-angan atau menginginkan sesuatu dalam hidup ini, tapi menuliskannya
butuh disiplin. Mengapa banyak yang gagal dalam hidup karena gagal menuliskan
tujuan hidupnya. Kita bisa teringat ketika ada yang membicarakannya, tapi
lagi-lagi kita sering gagal untuk menuliskannya. Bahkan sekalipun sudah
ditulis, masih sering kita terjebak dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Kita
melupakan apa tujuan hidup kita. Jadi, diperlukan perhatian khusus dan tindakan
segera untuk menuliskan apa yang ingin dicapai.
membuat istilah yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari ‘specific.’ Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi ‘membaca buku sejarah’- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit; Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman.
membuat istilah yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari ‘specific.’ Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi ‘membaca buku sejarah’- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit; Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman.
-3-
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.
A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.
T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia dalam waktu satu bulan.
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.
A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.
T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia dalam waktu satu bulan.
-4-
Dengan paparan istilah SMART di atas, saya harap Anda mempunyai gambaran tentang bagaimana merumuskan tujuan hidup pribadi Anda.
Note Tambahan :
-5-
- Tujuan berprilaku Smart
S.M.A.R.T adalah singkatan dari 5 langkah tujuan yang spesifik, terukur,
dapat dicapai, relevan, dan berdasarkan waktu. Alat sederhana ini digunakan
oleh perusahaan untuk mengatasi perkiraan tujuan yang ditetapkan ke dalam rencana
tindak lanjut demi hasil.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. “Dapatkan klien perusahaan bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada “Usahakan lebih banyak”. Ryan Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.
Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang smart.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. “Dapatkan klien perusahaan bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada “Usahakan lebih banyak”. Ryan Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.
Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang smart.
-6-
Relevant (relevan): tujuan usaha yang dapat dicapai didasarkan pada kondisi saat ini dan kenyataan iklim usaha. Anda mungkin ingin memiliki tahun terbaik Anda dalam usaha atau peningkatan pendapatan sebesar 50%, tetapi jika resesi yang menukik dan 3 pesaing baru dibuka di pasar Anda, maka tujuan Anda tidak relevan dengan realitas pasar.
Time-Based (berbasis waktu): Tujuan dan sasaran usaha tidak akan jalan ketika tidak ada kerangka waktu terkait dengan proses penetapan-tujuan. Apakah tujuan usaha Anda adalah untuk meningkatkan pendapatan sebesar 20% atau menemukan 5 klien baru, pilih kerangka waktu untuk mencapai tujuan Anda.
Contoh Tujuan Smart
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan, "Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada akhirnya menjadi SMART
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan, "Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada akhirnya menjadi SMART
-7-
- Kebenaran Esensi Menggunakan Metode Smart
Mereka yang tidak pernah bekerja keras melebihi bayarannya, tidak akan pernah mendapatkan bayaran melebihi dari yang mereka kerjakan. -Elbert Hubbart
Banyak manajemen di dalam perusahaan yang menentukan target individu karyawannya berdasarkan angka-angka dan kriteria yang terukur. Dan yang lebih detail lagi, dengan menggunakan metode SMART.
SMART berarti tujuannya tersebut spesifik dan terukur (Specific andMeasurable), dapat diraih/realistis (Attainable), relevan dan berjangka waktu (Relevant and Timely).
Tujuan yang dirumuskan dalam metode SMART sebagai sasaran-sasaran yang terukur secara otomatis akan lebih memotivasi daripada target yang tidak jelas. Tapi masalahnya, bagaimana memotivasi karyawan agar mengejar kemajuan dalam meraih pencapaian target-traget SMART ini?
Paul J. Meyer mendeskripsikan karakteristik pengukuran SMART sebagai berikut;
Spesifik berarti menjabarkan sasaran secara jelas dan tanpa ambigu. Beberapa atribut yang digunakan yaitu dengan mengevaluasi: apa yang ingin dicapai? Alasan atau keuntungan apa yang ingin diraih dengan mencapai sasaran itu? Siapa saja yang terkait dan berhubungan dengan pencapaian sasaran? Dimana lokasi atau fasilitas/prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan?
Selanjutnya adalah pengukuran yang kongkrit seperti berapa banyak atau kapan sebuah sasaran bisa diketahui telah dicapai. Hal ini mesti dapat diperhitungkan dari awal penetapan targetnya.
Terminologi yang ketiga (attainable) menekankan pentingnya seberapa realistis sebuah target itu. Jika sasarannya terlalu jauh diluar standar, bisa menjadi demotivator karena tidak sesuai dengan keahlian, kapasitas, kemampuan, serta perilaku yang dimiliki untuk meraih sasaran tersebut.
-8-
Sehingga kemungkinan bagaimana sebuah tujuan dapat diraih bisa terjawab ketika mulai menilai sebuah kelayakan target. Disinilah pentingnya rutinitas penilaian kinerja terhadap kontribusi karyawan yang dievaluasi atasan secara periodik atau berkala.
Target yang terlalu tinggi dan tak terjangkau akan memberikan tekanan yang terlalu besar dan akhirnya membawa perasaan apatis atau rasa malas dan penundaan. Sedangkan target yang terlalu rendah hanya akan menciptakan kinerja yang tidak optimal karena rasa bosan dan ujung-ujungnya juga bisa menimbulkan rasa malas dan penundaan (demotivasi).
Relevansi sebuah tujuan dinyatakan dengan memilih prioritas bagi sasaran-sasaran yang paling vital dan berarti bagi organisasi. Sebuah tujuan bisa saja spesifik, terukur, realistis, dan ada batas waktu, namun jika tidak relevan terhadap atasan, manajemen dan perusahaan secara keseluruhan maka tidak akan didukung penuh oleh tim kerja atau rekan/mitra kerja yang lain.
Kesesuaian dari sasaran yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi harus bermakna dan tepat waktu serta tepat guna dengan orang yang tepat pula. Dan yang terpenting adalah relevan dengan upaya, keahlian, dan kebutuhan dari sang pekerja serta kelompok kerjanya.
Kriteria terakhir dalam metode SMART adalah ukuran waktu dengan kerangka waktu dalam memulai serta tenggat waktu yang diharapkan untuk bisa menyelesaikan sasaran yang telah ditetapkan.
Perhitungan ini bisa diuraikan dengan memilah strategi menjadi taktik jangka pendek atau aktivitas harian, lalu taktik jangka menengah, dan jangka panjang atau tahunan serta lima tahunan supaya indikator-indikator yang menunjukkan kemajuan menuju pencapaian dapat dievaluasi dan dire-evaluasi.
-9-
Perencanaan strategis perusahaan yang terangkum dalam rumusan SMART ini memang memberikan kejelasan yang bisa menimbulkan motivasi awal pegawai untuk meraih sasaran-sasaran kerjanya, tapi bagaimana menjaga dan terus mendorong kinerja pegawai agar terus maksimal mengejar perkembangan dalam meraih target SMART ini?
Motivasi karyawan dalam bekerja justru jangan terlalu memikirkan angka-angka yang secara spesifik, terukur, ralistis, relevan, dan terbatas dengan waktu ini cukup untuk diketahui tapi tak bisa menjadi obsesi karena perusahaan dan para karyawannya tidak memiliki kendali penuh akan keakuratannya. Banyak faktor-faktor eksternal lainnya yang diluar kontrol manajemen seperti alam, lingkungan, tren pasar, perilaku pelanggan, perusahaan pesaing, regulator, dan sebagainya.
Lalu, bisa saja metode SMART ini berbalik, secara adil karyawan juga meminta perusahaan untuk memberikan imbalan atau bonus diluar gaji yang mencerminkan perhitungan spesifik jika target yang didapatkan melebihi harapan atau pengukuran SMART ini.
Tapi, intinya adalah agar perusahaan bisa memotivasi karyawan untuk memberikan performa yang maksimal. Maka, para karyawan harus bisa bekerja dengan ikhlas. Berusaha semaksimal mungkin sebisa dan semampu selama keahliannya memungkinkan, untuk bekerja 100% dari kapasitasnya. Dan tak perlu memikirkan target SMART lagi.
Hal ini akan menciptakan semangat perjuangan tanpa menyerah, meskipun waktu tak memungkinkan atau kemungkinan gagal tinggi, karyawan yang bekerja dengan ikhlas akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan.
Seperti atlit yang bermental juara yang tidak perduli menang-kalah terus berkompetisi semaksimal kemampuannya. Tidak seperti atlit yang bermental pecundang yang menghalalkan segala cara hanya untuk menang tapi tidak etis.
-10-
Lalu, bagaimanakah caranya agar seseorang bisa bekerja dengan Prilaku Smart? Caranya adalah dengan meminimalisir egoisme, lebih peduli pada orang lain, hasrat berkarya dengan tulus, motif tulus untuk ibadah, dengan cinta. Misalnya, karyawan yang sadar setiap saat bahwa dirinya bekerja untuk menyejahterakan keluarganya; akan ikhlas bekerja maksimal demi keluarga yang dicintainya tersebut.
Ilmu ini dalam psikologi berarti mengubah paradigma dan kerangka berpikir atau mindset. Menanamkan nilai dan budaya organisasi ke pikiran bawah sadar serta memanipulasi persepsi dan perspektif karyawan agar selalu berpandangan positif untuk bisa bekerja keras dengan ikhlas.
Memang tidak mudah atau sesederhana memutuskan satu kebijakan perusahaan. Ada beragam teori psikologis dan tips & trik motivasi yang berasal dari ilmu neurosains yang bisa diterapkan oleh atasan dan manajemen perusahaan untuk meningkatkan kekuatan mental para karyawan agar bekerja keras secara ikhlas. Saya akan membeberkannya dalam tulisan-tulisan mendatang di blog ini. Stay tuned!
- 5 Langkah Mewujudkan Berprilaku SMART
Seperti yang dijabarkan oleh Paul J.
Meyer dalam bukunya, Attitude is Everything, berikut
beberapa penjelasan mengenai karakteristik yang S.M.A.R.T dalam menetapkan
target:
1.
SPECIFIC
Kata yang pertama ini menekankan
pentingnya menetapkan target yang spesifik; benar-benar spesifik. Hindari
target yang terlalu umum atau kurang mendetail. Target tidak boleh ambigu,
harus jelas, dan dipaparkan dengan bahasa yang lugas. Misalnya, tetapkan target
seperti ini: “tingkatkan penjualan dari 500 menjadi 1000 buah apel dalam
sehari” dan hindari “tingkatkan omset dari penjualan apel per-hari”.
-11-
Untuk menetapkan tujuan yang spesifik, anda harus
menyampaikan kepada tim seluruh harapan dan keinginan dengan spesifik, mengapa
hal ini penting, siapa yang akan terlibat, dimana akan dijalankan, dan atribut
apa saja yang penting.
Suatu tujuan (target) yang spesifik
biasanya akan menjawab pertanyaan “5W” ini:
·
What: apa yang ingin saya capai?
·
Why: Mengapa harus dicapai? (alasan yang
spesifik; tujuan dan keuntungan dari pencapaian target tersebut)
·
Who: Siapa yang terlibat?
·
Where: Dimana target akan dicapai?
(identifikasi lokasi)
·
Which: Identifikasi persyaratan untuk
mencapai target dan kendala yang menghalagi tercapainya target.
2.
MEASURABLE
Kata yang kedua menekankan pentingnya
kriteria yang digunakan untuk mengukur besarnya kemajuan yang dibuat dalam
mencapai target. Filosofi yang melatar-belakangi poin ini adalah: “Jika
target tidak dapat diukur, mustahil untuk mengetahui apakah anda telah membuat
kemajuan dalam mencapai tujuan akhirnya”. Mengukur kemajuan akan membantu
tim untuk tetap berada dalam jalur yang benar, menepati tenggat waktu, dan merasakan
semangat dan euforia ketika memperoleh hasil yang menggembirakan di setiap
pencapaian yang membawa mereka lebih dekat kepada tujuan.
-12-
Target yang terukur akan mampu menjawab
salah satu pertanyaan:
·
Berapa banyak?
·
Bagaimana anda mengetahui bahwa target
tersebut telah tercapai?
3.
ATTAINABLE
Kata yang ketiga menekankan bahwa target harus
realistis dan dapat dicapai. Target tidak boleh dibuat terlalu mudah (untuk
performa standar tim anda), tapi juga tidak boleh terlalu sulit sehingga terasa
mustahil untuk dicapai. Target yang ditetapkan akan dapat dicapai jika: anda
telah menentukan apa yang paling penting, lalu mampu membayangkan
langkah-demi-langkah untuk mewujudkannya. Untuk itu, anda akan mengembangkan
perilaku, kemampuan, keahlian, dan kapasitas finansial untuk mencapainya.
Target yang attainable akan menjawab
pertanyaan seperti:
·
How: Bagaimana target tersebut akan
dicapai?
-13-
4.
RELEVANT
Kata keempat menekankan pentingnya
memilih target yang tepat. Target yang dibuat oleh bank manager untuk membuat “50
sandwich isi mentega kacang dan jeli sebelum jam 2 siang” bisa jadi
merupakan target yang Spesifik, Measurable, Attainable, dan Timely,
namun tidak Relevan. Seringkali anda membutuhkan dukungan
berbagai pihak untuk mencapai target: sumber daya, masukan dari Champion, dan
apapun yang dapat membantu meruntuhkan tembok penghalang. Target yang relevan
untuk atasan anda, tim anda, dan organisasi anda akan mendapatkan dukungan yang
anda butuhkan itu.
Target yang relevan, jika tercapai, akan mendorong
tim, departemen, dan organisasi lebih maju. Sebuah target yang mendukung atau
selaras dengan target-target lainnya akan dianggap sebagai target yang relevan.
Sebuah target yang relevan akan memberikan jawaban
‘ya’ untuk semua pertanyaan ini:
·
Apakah target ini layak diperjuangkan?
·
Apakah target ini ada di waktu yang
tepat?
·
Apakah target ini sesuai dengan
kebutuhan dan target anda yang lain?
·
Apakah anda orang yang tepat untuk
mengejar target ini?
-14-
5.
TIMELY
Kata kelima menekankan pentingnya
menepatkan target dengan kerangka waktu, yaitu memberikan deadline pencapaian
target. Komitmen kepada deadline akan membantu tim untuk tetap
fokus menjalankan pekerjaan untuk memenuhi target tepat waktu, atau bahkan
lebih cepat. Ini adalah bagian dari filosofi SMART yang melindungi target dari
serangan krisis sehari-hari yang biasa terjadi dalam organisasi. Target dengan
tenggat waktu akan menimbulkan urgensi.
Target dengan tenggat waktu akan menjawab pertanyaan
berikut:
·
Kapan?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
dalam 6 bulan dari sekarang?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
dalam 6 minggu dari sekarang?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
hari ini?
- Membangun Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart Dalam Pendidikan
1.Karakter adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan
kebenaran, relatif permanen dan merupakan profil hidup keseharian. Kebenaran
bukanlah sesuatu yang benar menurut pikiran manusia, melainkan ada acuan
kebenaran yakni kebenaran sesungguhnya. Apakah yang dilakukan dalam kehidupan
ini benar atau kurang benar acuannya adalah Kitab Suci. Kebenaran ilmiah tidak
boleh diputus dari kebenaran sesungguhnya. Sehingga, dalam karakter
terintegrasi tiga unsur penting yakni pikiran, perbuatan dan perilaku hidup.
Contoh: Sifat jujur sebagai karakter: berfikir jujur, berbuat jujur dan hidup
jujur - think rightly - act rigtly - live rightly
-15-
2.Karakter SMART adalah: Suka belajar, Maniak kerja,
Altruis, Religius dan Tulus. Suka belajar berarti, tekun dan rajin belajar,
mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, tidak ada hari tanpa belajar
sepanjang kehidupan. Maniak kerja, berarti profesional, trampil,
menikmati, tuntas dan perfeksionis dalam pekerjaan. Altruis berarti mengabdi
dalam bentuk perbuatan mulia, kepada orang tua, masyarakat dan bangsa
yakni memberi tanpa menerima, memprakarsai, tanpa menunggu balasan,
mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebaikan semua. Religius berarti
memelihara hubungan vertikal yakni mengasihi dan memuliakan Tuhan. Tulus
berarti keselarasan esensi kebenaran dalam pikiran, dengan perbuatan maupun
dalam kehidupan.
3.Suka belajar. Berarti tekun dan rajin belajar,
mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, tidak ada hari tanpa belajar seumur
hidup dan menjadi sosok melankolis sempurna. The end of knowledge is love. The
essence of scientific knowledge is to recognize the truth. Puncak ilmu
pengetahuan adalah mencintainya. Dan esensinya adalah mengenali kebenaran. Suka
belajar merupakan sifat keutamaan karena dengan sifat ini kebenaran semakin
dipahami. Jika hidup benar maka kehidupan semakin membaik.
4.Maniak kerja berarti profesional, trampil,
menikmati, tuntas, perfeksionis, bekerja keras, fokus pada penyelesaian
pekerjaan, ada target dan menjadi koleris yang kuat. Maniak kerja merupakan
sifat keutamaan karena dengan sifat ini kemiskinan dapat dientaskan. Saya minta
kekayaan, tetapi Tuhan memberi pikiran dan fisik untuk bekerja (I asked for
prosperity, and God gave me a brain and brawn to work).
-16-
5.Altruis berarti mengabdi dalam bentuk perbuatan
mulia, kepada orang tua, masyarakat dan bangsa yakni memberi tanpa menerima,
memprakarsai, tanpa menunggu balasan, mengorbankan kepentingan diri sendiri
demi kebaikan semua. Seseorang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, yang
utama adalah dirinya bermakna untuk orang lain, terutama orang tua. Altruis
merupakan sifat keutamaan karena ketentraman dan kedamaian utama adalah suka
menolong dan mengasihi sesama sementara kekurangan utama adalah egoisme.
6.Religius berarti memelihara hubungan vertikal yakni
mengasihi dan memuliakan Tuhan. Seluruh hidupnya memuliakan Tuhan. Dalam
bekeja, berbicara, pergaulan, memuliakan Tuhan. Religius merupakan sifat
keutamaan karena seseorang bekerja tidak hanya sebatas mendapatkan penghasilan,
melainkan memuliakan Tuhan dan kebutuhan mereka dipikirkan dan dipenuhi oleh
kebaikan Tuhan.
7.Tulus sepenuh hati dan menjadi sumber kedamaian.
Tulus berarti keselarasan esensi kebenaran dalam pikiran, dengan perbuatan
maupun dalam kehidupan citra diri bersumber dari nurani, hati yang paling
dalam. Tulus merupakan sifat keutamaan karena tulus menghasilkan kebaikan.
Contohnya, kalau mau jadi guru jadilah guru yang baik, kalau mau jadi pedagang,
jadilah pedagang yang baik. Janganlah menjadi guru yang pedagang, atau pedagang
yang guru.
-17-
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.Karakter SMART yakni suka belajar, maniak kerja, altruis, religius dan tulus.
2.Jika seseorang hidup dengan karakter SMART maka kehidupannya bergerak ke arah yang lebih baik.
3.Latihan pembentukan karakter SMART membutuhkan komitmen dan konsistensi selama periode tertentu sampai akhirnya menjadi sebuah karakter.
4. Untuk
Mewujudkan Prilaku Smart kita harus ikhlas dan mengambil sisi positif dalam Setiap
persoalan yang ada.
5.Keberhasilah Sumber daya Manusia terukur
pada kecerdasan Spritual merupakan wujud Kongkrit Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart
.
-18-
DAFTAR
PUSTAKA
Aidh.Q.(2007).
Jangan bersedih, Edisi ke 41 . Qitsi Press. Jakarta
Jujun.Suriasumantri.S.
(2012). Filsapat Ilmu .Cetakan ke 23.Penebar Swadaya. Jakarta.
Santos.
I. (2012). 13 Wasiat Otak Kanan . Cetakan ke 17. Gramedia
Jakarta
Suhartono,
Suparlan. (2008). Filasafat Ilmu Pengetahuan. Ar-ruzz
Media .Jogjakarta.
Kiyosaki.Robert.T.
(2007).Business School. Gramedia. Jakarta
-iii-
“KEBENARAN ESENSI DAN PRILAKU
SMART”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
1.
AHMAD
IMADI BATUBARA
2.
KHORUL
UMRI SIREGAR
3.
YENITA
BARUS
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Fiilasat Ilmu Pendidikan
Dosen : Prof.Dr.Belferik Manullang
KELAS 1 B1
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PROGRAM STUDI
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI MEDAN
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji penulis panjatkan
kehadirat Tuhan yang maha Esa, berkat anugerahnya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan.
Sehingga
dengan tersusunnya makalah ini, saya berharap orang yang membacannya terutama
kalangan pendidik dapat lebih memahami pentingnya “Pentingnya Berprilaku Smart dan
Kebenaran Esensi”.Kami menyadari Makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu kami berharap kritik, saran yang sifatnya membangun dari
semua pihak agar makalah ini lebih sempurna.
Dalam
kesempatan ini , penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
rekan Mahasiswa pasca sarjana Unimed Program Studi Administrasi Pendidikan kelas
1.B-1 terlebih khusus kepada Dosen pembimbing Mata kuliah ini ,BapakProf
.Dr.Belferik Manullang dan Ibu Prof.Dr.Sri Milfayetti, M.S.,Kons.
Medan, Oktober 2015
Penulis
Ahmad
Imadi Batubara
-i-
DAFTAR ISI
COVER
KATA
PENGANTAR ...........................................................................
i
DAFTAR
ISI .........................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................1
A. Latar
Belakang Masalah ..........................................................1
B. Rumusan
Masalah ....................................................................2
C. Batasan
Masalah.......................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
.................................................................3
A. Pengertian
Smart........................................................................3
B. Tujuan
Prilaku Smart.................................................................6
C. Kebenaran
Esensi Menggunakan Metode Smart.......................8
D. 5
Langkah Mewujudkan Prilaku Smart....................................11
E. Membangun
kebenaran Esensi dan prilaku Smart dalam Pendidikan ...............................................................................15
BAB III PENUTUP
.........................................................................18
1.
Kesimpulan
.............................................................................18
DAFTARPUSTAKA
..............................................................................iii
-ii-
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Krisis bangsa, atau krisis kehidupan adalah krisis sumber daya manusia,
terutama spiritualitasnya. Fenomena krisis hidup manusia tidak hanya
semata-mata krisis intelektual dan moral. Sedikit lebih dalam ke jantung
persoalan yakni krisis spiritual.
Hasil studi baru mengindikasikan bahwa sukses abad 21
tergantung optimasi spiritualitas. (The Spiritual Crisis of Man, Paul Brunton).
Krisis spiritual membuat seseorang cenderungmenjadi sumber atau bagiandari
masalah.
Sementara cerdas spiritual membuat seseorang cenderung menjadi solusi masalah. Krisis spiritual cenderung membuat orang yang pintar membuat masalah kecil menjadi semakin rumit, sementara cerdas spiritual membuat orang pintar berhasil menyederhanakan bahkan menyelesaikan masalah.
Karakter SMART fokus pada aktivasi spiritual yakni repsiritualisasi. Kembalilah kepada hal-hal spiritual seperti back to the nature, and back to the essence of life. Repsiritualisasi karakter dimulai dari kecerdasan yakni intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Tahapannya; thought - action - habit (pemahaman - tindakan - kebiasaan).
Sementara cerdas spiritual membuat seseorang cenderung menjadi solusi masalah. Krisis spiritual cenderung membuat orang yang pintar membuat masalah kecil menjadi semakin rumit, sementara cerdas spiritual membuat orang pintar berhasil menyederhanakan bahkan menyelesaikan masalah.
Karakter SMART fokus pada aktivasi spiritual yakni repsiritualisasi. Kembalilah kepada hal-hal spiritual seperti back to the nature, and back to the essence of life. Repsiritualisasi karakter dimulai dari kecerdasan yakni intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Tahapannya; thought - action - habit (pemahaman - tindakan - kebiasaan).
Pembentukan karakter memiliki beberapa
ciri:
a)
dilakukan oleh pendidik berkarakter
sebagai teladan
b) membutuhkan
waktu relatif lama,
c) karakter
bersumber dari kebenaran sesungguhnya,
d) membutuhkan
ketekunan, kesabaran, ketulusan untuk melakukan dengan konsisten.
-1-
Proses Pendidikan karakter SMART.
1) Latihan suka belajar dengan mengkondisikan suasana
di rumah, di tempat kerja, di sekolah dan usahakan menyediakan sumber-sumber
belajar yang menarik. Seperti perangkat perlengkapan belajar, buku-buku yang
menarik. Kendalikan selama periode tertentu, sampai akhirnya suka belajar.
2)
Latihan maniak kerja: bekerja dan menikmatinya, Kendalikan selama periode
tertentu sampai akhirnya maniak kerja.
3) Latihan altruis yakni melakukan pekerjaan
mengabdi dalam bentuk yang sederhana dan suasana yang menyenangkan, Kendalikan
selama periode tertentu, sampai akhirnya memiliki sifat altruis
4)
Latihan religius yakni mengikuti ibadah secara terus menerus, dalam suasana
yang menyenangkan dan melengkapi sumber-sumber pengetahuan religius. Kendalikan
selama periode tertentu sampai akhirnya memiliki sifat religius dan
5)
Latihan tulus yakni aktivasi hati (nurani) dalam berfikir dan berbuat.
Kendalikan selama periode tertentu sampai akhirnya memiliki sifat tulus.
B.Rumusan Masalah
Yang
menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Bagaimana Menerapkan
Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart ?
C.Batasan Masalah
Agar
masalah yang dikemukakan terarah , maka perlu pemabatasan masalah yaitu : Mewujudkan
Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart.
-2-
BAB III
PEMBAHASAN
- Pengertian Smart
Menuliskan sasaran pribadi butuh disiplin. Relatif mudah untuk menghayal,
berangan-angan atau menginginkan sesuatu dalam hidup ini, tapi menuliskannya
butuh disiplin. Mengapa banyak yang gagal dalam hidup karena gagal menuliskan
tujuan hidupnya. Kita bisa teringat ketika ada yang membicarakannya, tapi
lagi-lagi kita sering gagal untuk menuliskannya. Bahkan sekalipun sudah
ditulis, masih sering kita terjebak dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Kita
melupakan apa tujuan hidup kita. Jadi, diperlukan perhatian khusus dan tindakan
segera untuk menuliskan apa yang ingin dicapai.
membuat istilah yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari ‘specific.’ Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi ‘membaca buku sejarah’- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit; Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman.
membuat istilah yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari ‘specific.’ Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi ‘membaca buku sejarah’- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit; Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman.
-3-
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.
A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.
T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia dalam waktu satu bulan.
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.
A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.
T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia dalam waktu satu bulan.
-4-
Dengan paparan istilah SMART di atas, saya harap Anda mempunyai gambaran tentang bagaimana merumuskan tujuan hidup pribadi Anda.
Note Tambahan :
-5-
- Tujuan berprilaku Smart
S.M.A.R.T adalah singkatan dari 5 langkah tujuan yang spesifik, terukur,
dapat dicapai, relevan, dan berdasarkan waktu. Alat sederhana ini digunakan
oleh perusahaan untuk mengatasi perkiraan tujuan yang ditetapkan ke dalam rencana
tindak lanjut demi hasil.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. “Dapatkan klien perusahaan bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada “Usahakan lebih banyak”. Ryan Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.
Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang smart.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. “Dapatkan klien perusahaan bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada “Usahakan lebih banyak”. Ryan Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.
Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang smart.
-6-
Relevant (relevan): tujuan usaha yang dapat dicapai didasarkan pada kondisi saat ini dan kenyataan iklim usaha. Anda mungkin ingin memiliki tahun terbaik Anda dalam usaha atau peningkatan pendapatan sebesar 50%, tetapi jika resesi yang menukik dan 3 pesaing baru dibuka di pasar Anda, maka tujuan Anda tidak relevan dengan realitas pasar.
Time-Based (berbasis waktu): Tujuan dan sasaran usaha tidak akan jalan ketika tidak ada kerangka waktu terkait dengan proses penetapan-tujuan. Apakah tujuan usaha Anda adalah untuk meningkatkan pendapatan sebesar 20% atau menemukan 5 klien baru, pilih kerangka waktu untuk mencapai tujuan Anda.
Contoh Tujuan Smart
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan, "Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada akhirnya menjadi SMART
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan, "Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada akhirnya menjadi SMART
-7-
- Kebenaran Esensi Menggunakan Metode Smart
Mereka yang tidak pernah bekerja keras melebihi bayarannya, tidak akan pernah mendapatkan bayaran melebihi dari yang mereka kerjakan. -Elbert Hubbart
Banyak manajemen di dalam perusahaan yang menentukan target individu karyawannya berdasarkan angka-angka dan kriteria yang terukur. Dan yang lebih detail lagi, dengan menggunakan metode SMART.
SMART berarti tujuannya tersebut spesifik dan terukur (Specific andMeasurable), dapat diraih/realistis (Attainable), relevan dan berjangka waktu (Relevant and Timely).
Tujuan yang dirumuskan dalam metode SMART sebagai sasaran-sasaran yang terukur secara otomatis akan lebih memotivasi daripada target yang tidak jelas. Tapi masalahnya, bagaimana memotivasi karyawan agar mengejar kemajuan dalam meraih pencapaian target-traget SMART ini?
Paul J. Meyer mendeskripsikan karakteristik pengukuran SMART sebagai berikut;
Spesifik berarti menjabarkan sasaran secara jelas dan tanpa ambigu. Beberapa atribut yang digunakan yaitu dengan mengevaluasi: apa yang ingin dicapai? Alasan atau keuntungan apa yang ingin diraih dengan mencapai sasaran itu? Siapa saja yang terkait dan berhubungan dengan pencapaian sasaran? Dimana lokasi atau fasilitas/prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan?
Selanjutnya adalah pengukuran yang kongkrit seperti berapa banyak atau kapan sebuah sasaran bisa diketahui telah dicapai. Hal ini mesti dapat diperhitungkan dari awal penetapan targetnya.
Terminologi yang ketiga (attainable) menekankan pentingnya seberapa realistis sebuah target itu. Jika sasarannya terlalu jauh diluar standar, bisa menjadi demotivator karena tidak sesuai dengan keahlian, kapasitas, kemampuan, serta perilaku yang dimiliki untuk meraih sasaran tersebut.
-8-
Sehingga kemungkinan bagaimana sebuah tujuan dapat diraih bisa terjawab ketika mulai menilai sebuah kelayakan target. Disinilah pentingnya rutinitas penilaian kinerja terhadap kontribusi karyawan yang dievaluasi atasan secara periodik atau berkala.
Target yang terlalu tinggi dan tak terjangkau akan memberikan tekanan yang terlalu besar dan akhirnya membawa perasaan apatis atau rasa malas dan penundaan. Sedangkan target yang terlalu rendah hanya akan menciptakan kinerja yang tidak optimal karena rasa bosan dan ujung-ujungnya juga bisa menimbulkan rasa malas dan penundaan (demotivasi).
Relevansi sebuah tujuan dinyatakan dengan memilih prioritas bagi sasaran-sasaran yang paling vital dan berarti bagi organisasi. Sebuah tujuan bisa saja spesifik, terukur, realistis, dan ada batas waktu, namun jika tidak relevan terhadap atasan, manajemen dan perusahaan secara keseluruhan maka tidak akan didukung penuh oleh tim kerja atau rekan/mitra kerja yang lain.
Kesesuaian dari sasaran yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi harus bermakna dan tepat waktu serta tepat guna dengan orang yang tepat pula. Dan yang terpenting adalah relevan dengan upaya, keahlian, dan kebutuhan dari sang pekerja serta kelompok kerjanya.
Kriteria terakhir dalam metode SMART adalah ukuran waktu dengan kerangka waktu dalam memulai serta tenggat waktu yang diharapkan untuk bisa menyelesaikan sasaran yang telah ditetapkan.
Perhitungan ini bisa diuraikan dengan memilah strategi menjadi taktik jangka pendek atau aktivitas harian, lalu taktik jangka menengah, dan jangka panjang atau tahunan serta lima tahunan supaya indikator-indikator yang menunjukkan kemajuan menuju pencapaian dapat dievaluasi dan dire-evaluasi.
-9-
Perencanaan strategis perusahaan yang terangkum dalam rumusan SMART ini memang memberikan kejelasan yang bisa menimbulkan motivasi awal pegawai untuk meraih sasaran-sasaran kerjanya, tapi bagaimana menjaga dan terus mendorong kinerja pegawai agar terus maksimal mengejar perkembangan dalam meraih target SMART ini?
Motivasi karyawan dalam bekerja justru jangan terlalu memikirkan angka-angka yang secara spesifik, terukur, ralistis, relevan, dan terbatas dengan waktu ini cukup untuk diketahui tapi tak bisa menjadi obsesi karena perusahaan dan para karyawannya tidak memiliki kendali penuh akan keakuratannya. Banyak faktor-faktor eksternal lainnya yang diluar kontrol manajemen seperti alam, lingkungan, tren pasar, perilaku pelanggan, perusahaan pesaing, regulator, dan sebagainya.
Lalu, bisa saja metode SMART ini berbalik, secara adil karyawan juga meminta perusahaan untuk memberikan imbalan atau bonus diluar gaji yang mencerminkan perhitungan spesifik jika target yang didapatkan melebihi harapan atau pengukuran SMART ini.
Tapi, intinya adalah agar perusahaan bisa memotivasi karyawan untuk memberikan performa yang maksimal. Maka, para karyawan harus bisa bekerja dengan ikhlas. Berusaha semaksimal mungkin sebisa dan semampu selama keahliannya memungkinkan, untuk bekerja 100% dari kapasitasnya. Dan tak perlu memikirkan target SMART lagi.
Hal ini akan menciptakan semangat perjuangan tanpa menyerah, meskipun waktu tak memungkinkan atau kemungkinan gagal tinggi, karyawan yang bekerja dengan ikhlas akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan.
Seperti atlit yang bermental juara yang tidak perduli menang-kalah terus berkompetisi semaksimal kemampuannya. Tidak seperti atlit yang bermental pecundang yang menghalalkan segala cara hanya untuk menang tapi tidak etis.
-10-
Lalu, bagaimanakah caranya agar seseorang bisa bekerja dengan Prilaku Smart? Caranya adalah dengan meminimalisir egoisme, lebih peduli pada orang lain, hasrat berkarya dengan tulus, motif tulus untuk ibadah, dengan cinta. Misalnya, karyawan yang sadar setiap saat bahwa dirinya bekerja untuk menyejahterakan keluarganya; akan ikhlas bekerja maksimal demi keluarga yang dicintainya tersebut.
Ilmu ini dalam psikologi berarti mengubah paradigma dan kerangka berpikir atau mindset. Menanamkan nilai dan budaya organisasi ke pikiran bawah sadar serta memanipulasi persepsi dan perspektif karyawan agar selalu berpandangan positif untuk bisa bekerja keras dengan ikhlas.
Memang tidak mudah atau sesederhana memutuskan satu kebijakan perusahaan. Ada beragam teori psikologis dan tips & trik motivasi yang berasal dari ilmu neurosains yang bisa diterapkan oleh atasan dan manajemen perusahaan untuk meningkatkan kekuatan mental para karyawan agar bekerja keras secara ikhlas. Saya akan membeberkannya dalam tulisan-tulisan mendatang di blog ini. Stay tuned!
- 5 Langkah Mewujudkan Berprilaku SMART
Seperti yang dijabarkan oleh Paul J.
Meyer dalam bukunya, Attitude is Everything, berikut
beberapa penjelasan mengenai karakteristik yang S.M.A.R.T dalam menetapkan
target:
1.
SPECIFIC
Kata yang pertama ini menekankan
pentingnya menetapkan target yang spesifik; benar-benar spesifik. Hindari
target yang terlalu umum atau kurang mendetail. Target tidak boleh ambigu,
harus jelas, dan dipaparkan dengan bahasa yang lugas. Misalnya, tetapkan target
seperti ini: “tingkatkan penjualan dari 500 menjadi 1000 buah apel dalam
sehari” dan hindari “tingkatkan omset dari penjualan apel per-hari”.
-11-
Untuk menetapkan tujuan yang spesifik, anda harus
menyampaikan kepada tim seluruh harapan dan keinginan dengan spesifik, mengapa
hal ini penting, siapa yang akan terlibat, dimana akan dijalankan, dan atribut
apa saja yang penting.
Suatu tujuan (target) yang spesifik
biasanya akan menjawab pertanyaan “5W” ini:
·
What: apa yang ingin saya capai?
·
Why: Mengapa harus dicapai? (alasan yang
spesifik; tujuan dan keuntungan dari pencapaian target tersebut)
·
Who: Siapa yang terlibat?
·
Where: Dimana target akan dicapai?
(identifikasi lokasi)
·
Which: Identifikasi persyaratan untuk
mencapai target dan kendala yang menghalagi tercapainya target.
2.
MEASURABLE
Kata yang kedua menekankan pentingnya
kriteria yang digunakan untuk mengukur besarnya kemajuan yang dibuat dalam
mencapai target. Filosofi yang melatar-belakangi poin ini adalah: “Jika
target tidak dapat diukur, mustahil untuk mengetahui apakah anda telah membuat
kemajuan dalam mencapai tujuan akhirnya”. Mengukur kemajuan akan membantu
tim untuk tetap berada dalam jalur yang benar, menepati tenggat waktu, dan merasakan
semangat dan euforia ketika memperoleh hasil yang menggembirakan di setiap
pencapaian yang membawa mereka lebih dekat kepada tujuan.
-12-
Target yang terukur akan mampu menjawab
salah satu pertanyaan:
·
Berapa banyak?
·
Bagaimana anda mengetahui bahwa target
tersebut telah tercapai?
3.
ATTAINABLE
Kata yang ketiga menekankan bahwa target harus
realistis dan dapat dicapai. Target tidak boleh dibuat terlalu mudah (untuk
performa standar tim anda), tapi juga tidak boleh terlalu sulit sehingga terasa
mustahil untuk dicapai. Target yang ditetapkan akan dapat dicapai jika: anda
telah menentukan apa yang paling penting, lalu mampu membayangkan
langkah-demi-langkah untuk mewujudkannya. Untuk itu, anda akan mengembangkan
perilaku, kemampuan, keahlian, dan kapasitas finansial untuk mencapainya.
Target yang attainable akan menjawab
pertanyaan seperti:
·
How: Bagaimana target tersebut akan
dicapai?
-13-
4.
RELEVANT
Kata keempat menekankan pentingnya
memilih target yang tepat. Target yang dibuat oleh bank manager untuk membuat “50
sandwich isi mentega kacang dan jeli sebelum jam 2 siang” bisa jadi
merupakan target yang Spesifik, Measurable, Attainable, dan Timely,
namun tidak Relevan. Seringkali anda membutuhkan dukungan
berbagai pihak untuk mencapai target: sumber daya, masukan dari Champion, dan
apapun yang dapat membantu meruntuhkan tembok penghalang. Target yang relevan
untuk atasan anda, tim anda, dan organisasi anda akan mendapatkan dukungan yang
anda butuhkan itu.
Target yang relevan, jika tercapai, akan mendorong
tim, departemen, dan organisasi lebih maju. Sebuah target yang mendukung atau
selaras dengan target-target lainnya akan dianggap sebagai target yang relevan.
Sebuah target yang relevan akan memberikan jawaban
‘ya’ untuk semua pertanyaan ini:
·
Apakah target ini layak diperjuangkan?
·
Apakah target ini ada di waktu yang
tepat?
·
Apakah target ini sesuai dengan
kebutuhan dan target anda yang lain?
·
Apakah anda orang yang tepat untuk
mengejar target ini?
-14-
5.
TIMELY
Kata kelima menekankan pentingnya
menepatkan target dengan kerangka waktu, yaitu memberikan deadline pencapaian
target. Komitmen kepada deadline akan membantu tim untuk tetap
fokus menjalankan pekerjaan untuk memenuhi target tepat waktu, atau bahkan
lebih cepat. Ini adalah bagian dari filosofi SMART yang melindungi target dari
serangan krisis sehari-hari yang biasa terjadi dalam organisasi. Target dengan
tenggat waktu akan menimbulkan urgensi.
Target dengan tenggat waktu akan menjawab pertanyaan
berikut:
·
Kapan?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
dalam 6 bulan dari sekarang?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
dalam 6 minggu dari sekarang?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
hari ini?
- Membangun Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart Dalam Pendidikan
1.Karakter adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan
kebenaran, relatif permanen dan merupakan profil hidup keseharian. Kebenaran
bukanlah sesuatu yang benar menurut pikiran manusia, melainkan ada acuan
kebenaran yakni kebenaran sesungguhnya. Apakah yang dilakukan dalam kehidupan
ini benar atau kurang benar acuannya adalah Kitab Suci. Kebenaran ilmiah tidak
boleh diputus dari kebenaran sesungguhnya. Sehingga, dalam karakter
terintegrasi tiga unsur penting yakni pikiran, perbuatan dan perilaku hidup.
Contoh: Sifat jujur sebagai karakter: berfikir jujur, berbuat jujur dan hidup
jujur - think rightly - act rigtly - live rightly
-15-
2.Karakter SMART adalah: Suka belajar, Maniak kerja,
Altruis, Religius dan Tulus. Suka belajar berarti, tekun dan rajin belajar,
mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, tidak ada hari tanpa belajar
sepanjang kehidupan. Maniak kerja, berarti profesional, trampil,
menikmati, tuntas dan perfeksionis dalam pekerjaan. Altruis berarti mengabdi
dalam bentuk perbuatan mulia, kepada orang tua, masyarakat dan bangsa
yakni memberi tanpa menerima, memprakarsai, tanpa menunggu balasan,
mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebaikan semua. Religius berarti
memelihara hubungan vertikal yakni mengasihi dan memuliakan Tuhan. Tulus
berarti keselarasan esensi kebenaran dalam pikiran, dengan perbuatan maupun
dalam kehidupan.
3.Suka belajar. Berarti tekun dan rajin belajar,
mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, tidak ada hari tanpa belajar seumur
hidup dan menjadi sosok melankolis sempurna. The end of knowledge is love. The
essence of scientific knowledge is to recognize the truth. Puncak ilmu
pengetahuan adalah mencintainya. Dan esensinya adalah mengenali kebenaran. Suka
belajar merupakan sifat keutamaan karena dengan sifat ini kebenaran semakin
dipahami. Jika hidup benar maka kehidupan semakin membaik.
4.Maniak kerja berarti profesional, trampil,
menikmati, tuntas, perfeksionis, bekerja keras, fokus pada penyelesaian
pekerjaan, ada target dan menjadi koleris yang kuat. Maniak kerja merupakan
sifat keutamaan karena dengan sifat ini kemiskinan dapat dientaskan. Saya minta
kekayaan, tetapi Tuhan memberi pikiran dan fisik untuk bekerja (I asked for
prosperity, and God gave me a brain and brawn to work).
-16-
5.Altruis berarti mengabdi dalam bentuk perbuatan
mulia, kepada orang tua, masyarakat dan bangsa yakni memberi tanpa menerima,
memprakarsai, tanpa menunggu balasan, mengorbankan kepentingan diri sendiri
demi kebaikan semua. Seseorang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, yang
utama adalah dirinya bermakna untuk orang lain, terutama orang tua. Altruis
merupakan sifat keutamaan karena ketentraman dan kedamaian utama adalah suka
menolong dan mengasihi sesama sementara kekurangan utama adalah egoisme.
6.Religius berarti memelihara hubungan vertikal yakni
mengasihi dan memuliakan Tuhan. Seluruh hidupnya memuliakan Tuhan. Dalam
bekeja, berbicara, pergaulan, memuliakan Tuhan. Religius merupakan sifat
keutamaan karena seseorang bekerja tidak hanya sebatas mendapatkan penghasilan,
melainkan memuliakan Tuhan dan kebutuhan mereka dipikirkan dan dipenuhi oleh
kebaikan Tuhan.
7.Tulus sepenuh hati dan menjadi sumber kedamaian.
Tulus berarti keselarasan esensi kebenaran dalam pikiran, dengan perbuatan
maupun dalam kehidupan citra diri bersumber dari nurani, hati yang paling
dalam. Tulus merupakan sifat keutamaan karena tulus menghasilkan kebaikan.
Contohnya, kalau mau jadi guru jadilah guru yang baik, kalau mau jadi pedagang,
jadilah pedagang yang baik. Janganlah menjadi guru yang pedagang, atau pedagang
yang guru.
-17-
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.Karakter SMART yakni suka belajar, maniak kerja, altruis, religius dan tulus.
2.Jika seseorang hidup dengan karakter SMART maka kehidupannya bergerak ke arah yang lebih baik.
3.Latihan pembentukan karakter SMART membutuhkan komitmen dan konsistensi selama periode tertentu sampai akhirnya menjadi sebuah karakter.
4. Untuk
Mewujudkan Prilaku Smart kita harus ikhlas dan mengambil sisi positif dalam Setiap
persoalan yang ada.
5.Keberhasilah Sumber daya Manusia terukur
pada kecerdasan Spritual merupakan wujud Kongkrit Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart
.
-18-
DAFTAR
PUSTAKA
Aidh.Q.(2007).
Jangan bersedih, Edisi ke 41 . Qitsi Press. Jakarta
Jujun.Suriasumantri.S.
(2012). Filsapat Ilmu .Cetakan ke 23.Penebar Swadaya. Jakarta.
Santos.
I. (2012). 13 Wasiat Otak Kanan . Cetakan ke 17. Gramedia
Jakarta
Suhartono,
Suparlan. (2008). Filasafat Ilmu Pengetahuan. Ar-ruzz
Media .Jogjakarta.
Kiyosaki.Robert.T.
(2007).Business School. Gramedia. Jakarta
-iii-
“KEBENARAN ESENSI DAN PRILAKU
SMART”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
1.
AHMAD
IMADI BATUBARA
2.
KHORUL
UMRI SIREGAR
3.
YENITA
BARUS
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Fiilasat Ilmu Pendidikan
Dosen : Prof.Dr.Belferik Manullang
KELAS 1 B1
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PROGRAM STUDI
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI MEDAN
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji penulis panjatkan
kehadirat Tuhan yang maha Esa, berkat anugerahnya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan.
Sehingga
dengan tersusunnya makalah ini, saya berharap orang yang membacannya terutama
kalangan pendidik dapat lebih memahami pentingnya “Pentingnya Berprilaku Smart dan
Kebenaran Esensi”.Kami menyadari Makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu kami berharap kritik, saran yang sifatnya membangun dari
semua pihak agar makalah ini lebih sempurna.
Dalam
kesempatan ini , penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
rekan Mahasiswa pasca sarjana Unimed Program Studi Administrasi Pendidikan kelas
1.B-1 terlebih khusus kepada Dosen pembimbing Mata kuliah ini ,BapakProf
.Dr.Belferik Manullang dan Ibu Prof.Dr.Sri Milfayetti, M.S.,Kons.
Medan, Oktober 2015
Penulis
Ahmad
Imadi Batubara
-i-
DAFTAR ISI
COVER
KATA
PENGANTAR ...........................................................................
i
DAFTAR
ISI .........................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................1
A. Latar
Belakang Masalah ..........................................................1
B. Rumusan
Masalah ....................................................................2
C. Batasan
Masalah.......................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
.................................................................3
A. Pengertian
Smart........................................................................3
B. Tujuan
Prilaku Smart.................................................................6
C. Kebenaran
Esensi Menggunakan Metode Smart.......................8
D. 5
Langkah Mewujudkan Prilaku Smart....................................11
E. Membangun
kebenaran Esensi dan prilaku Smart dalam Pendidikan ...............................................................................15
BAB III PENUTUP
.........................................................................18
1.
Kesimpulan
.............................................................................18
DAFTARPUSTAKA
..............................................................................iii
-ii-
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Krisis bangsa, atau krisis kehidupan adalah krisis sumber daya manusia,
terutama spiritualitasnya. Fenomena krisis hidup manusia tidak hanya
semata-mata krisis intelektual dan moral. Sedikit lebih dalam ke jantung
persoalan yakni krisis spiritual.
Hasil studi baru mengindikasikan bahwa sukses abad 21
tergantung optimasi spiritualitas. (The Spiritual Crisis of Man, Paul Brunton).
Krisis spiritual membuat seseorang cenderungmenjadi sumber atau bagiandari
masalah.
Sementara cerdas spiritual membuat seseorang cenderung menjadi solusi masalah. Krisis spiritual cenderung membuat orang yang pintar membuat masalah kecil menjadi semakin rumit, sementara cerdas spiritual membuat orang pintar berhasil menyederhanakan bahkan menyelesaikan masalah.
Karakter SMART fokus pada aktivasi spiritual yakni repsiritualisasi. Kembalilah kepada hal-hal spiritual seperti back to the nature, and back to the essence of life. Repsiritualisasi karakter dimulai dari kecerdasan yakni intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Tahapannya; thought - action - habit (pemahaman - tindakan - kebiasaan).
Sementara cerdas spiritual membuat seseorang cenderung menjadi solusi masalah. Krisis spiritual cenderung membuat orang yang pintar membuat masalah kecil menjadi semakin rumit, sementara cerdas spiritual membuat orang pintar berhasil menyederhanakan bahkan menyelesaikan masalah.
Karakter SMART fokus pada aktivasi spiritual yakni repsiritualisasi. Kembalilah kepada hal-hal spiritual seperti back to the nature, and back to the essence of life. Repsiritualisasi karakter dimulai dari kecerdasan yakni intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Tahapannya; thought - action - habit (pemahaman - tindakan - kebiasaan).
Pembentukan karakter memiliki beberapa
ciri:
a)
dilakukan oleh pendidik berkarakter
sebagai teladan
b) membutuhkan
waktu relatif lama,
c) karakter
bersumber dari kebenaran sesungguhnya,
d) membutuhkan
ketekunan, kesabaran, ketulusan untuk melakukan dengan konsisten.
-1-
Proses Pendidikan karakter SMART.
1) Latihan suka belajar dengan mengkondisikan suasana
di rumah, di tempat kerja, di sekolah dan usahakan menyediakan sumber-sumber
belajar yang menarik. Seperti perangkat perlengkapan belajar, buku-buku yang
menarik. Kendalikan selama periode tertentu, sampai akhirnya suka belajar.
2)
Latihan maniak kerja: bekerja dan menikmatinya, Kendalikan selama periode
tertentu sampai akhirnya maniak kerja.
3) Latihan altruis yakni melakukan pekerjaan
mengabdi dalam bentuk yang sederhana dan suasana yang menyenangkan, Kendalikan
selama periode tertentu, sampai akhirnya memiliki sifat altruis
4)
Latihan religius yakni mengikuti ibadah secara terus menerus, dalam suasana
yang menyenangkan dan melengkapi sumber-sumber pengetahuan religius. Kendalikan
selama periode tertentu sampai akhirnya memiliki sifat religius dan
5)
Latihan tulus yakni aktivasi hati (nurani) dalam berfikir dan berbuat.
Kendalikan selama periode tertentu sampai akhirnya memiliki sifat tulus.
B.Rumusan Masalah
Yang
menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Bagaimana Menerapkan
Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart ?
C.Batasan Masalah
Agar
masalah yang dikemukakan terarah , maka perlu pemabatasan masalah yaitu : Mewujudkan
Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart.
-2-
BAB III
PEMBAHASAN
- Pengertian Smart
Menuliskan sasaran pribadi butuh disiplin. Relatif mudah untuk menghayal,
berangan-angan atau menginginkan sesuatu dalam hidup ini, tapi menuliskannya
butuh disiplin. Mengapa banyak yang gagal dalam hidup karena gagal menuliskan
tujuan hidupnya. Kita bisa teringat ketika ada yang membicarakannya, tapi
lagi-lagi kita sering gagal untuk menuliskannya. Bahkan sekalipun sudah
ditulis, masih sering kita terjebak dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Kita
melupakan apa tujuan hidup kita. Jadi, diperlukan perhatian khusus dan tindakan
segera untuk menuliskan apa yang ingin dicapai.
membuat istilah yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari ‘specific.’ Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi ‘membaca buku sejarah’- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit; Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman.
membuat istilah yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari ‘specific.’ Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi ‘membaca buku sejarah’- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit; Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman.
-3-
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.
A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.
T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia dalam waktu satu bulan.
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.
A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.
T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia dalam waktu satu bulan.
-4-
Dengan paparan istilah SMART di atas, saya harap Anda mempunyai gambaran tentang bagaimana merumuskan tujuan hidup pribadi Anda.
Note Tambahan :
-5-
- Tujuan berprilaku Smart
S.M.A.R.T adalah singkatan dari 5 langkah tujuan yang spesifik, terukur,
dapat dicapai, relevan, dan berdasarkan waktu. Alat sederhana ini digunakan
oleh perusahaan untuk mengatasi perkiraan tujuan yang ditetapkan ke dalam rencana
tindak lanjut demi hasil.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. “Dapatkan klien perusahaan bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada “Usahakan lebih banyak”. Ryan Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.
Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang smart.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. “Dapatkan klien perusahaan bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada “Usahakan lebih banyak”. Ryan Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.
Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang smart.
-6-
Relevant (relevan): tujuan usaha yang dapat dicapai didasarkan pada kondisi saat ini dan kenyataan iklim usaha. Anda mungkin ingin memiliki tahun terbaik Anda dalam usaha atau peningkatan pendapatan sebesar 50%, tetapi jika resesi yang menukik dan 3 pesaing baru dibuka di pasar Anda, maka tujuan Anda tidak relevan dengan realitas pasar.
Time-Based (berbasis waktu): Tujuan dan sasaran usaha tidak akan jalan ketika tidak ada kerangka waktu terkait dengan proses penetapan-tujuan. Apakah tujuan usaha Anda adalah untuk meningkatkan pendapatan sebesar 20% atau menemukan 5 klien baru, pilih kerangka waktu untuk mencapai tujuan Anda.
Contoh Tujuan Smart
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan, "Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada akhirnya menjadi SMART
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan, "Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada akhirnya menjadi SMART
-7-
- Kebenaran Esensi Menggunakan Metode Smart
Mereka yang tidak pernah bekerja keras melebihi bayarannya, tidak akan pernah mendapatkan bayaran melebihi dari yang mereka kerjakan. -Elbert Hubbart
Banyak manajemen di dalam perusahaan yang menentukan target individu karyawannya berdasarkan angka-angka dan kriteria yang terukur. Dan yang lebih detail lagi, dengan menggunakan metode SMART.
SMART berarti tujuannya tersebut spesifik dan terukur (Specific andMeasurable), dapat diraih/realistis (Attainable), relevan dan berjangka waktu (Relevant and Timely).
Tujuan yang dirumuskan dalam metode SMART sebagai sasaran-sasaran yang terukur secara otomatis akan lebih memotivasi daripada target yang tidak jelas. Tapi masalahnya, bagaimana memotivasi karyawan agar mengejar kemajuan dalam meraih pencapaian target-traget SMART ini?
Paul J. Meyer mendeskripsikan karakteristik pengukuran SMART sebagai berikut;
Spesifik berarti menjabarkan sasaran secara jelas dan tanpa ambigu. Beberapa atribut yang digunakan yaitu dengan mengevaluasi: apa yang ingin dicapai? Alasan atau keuntungan apa yang ingin diraih dengan mencapai sasaran itu? Siapa saja yang terkait dan berhubungan dengan pencapaian sasaran? Dimana lokasi atau fasilitas/prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan?
Selanjutnya adalah pengukuran yang kongkrit seperti berapa banyak atau kapan sebuah sasaran bisa diketahui telah dicapai. Hal ini mesti dapat diperhitungkan dari awal penetapan targetnya.
Terminologi yang ketiga (attainable) menekankan pentingnya seberapa realistis sebuah target itu. Jika sasarannya terlalu jauh diluar standar, bisa menjadi demotivator karena tidak sesuai dengan keahlian, kapasitas, kemampuan, serta perilaku yang dimiliki untuk meraih sasaran tersebut.
-8-
Sehingga kemungkinan bagaimana sebuah tujuan dapat diraih bisa terjawab ketika mulai menilai sebuah kelayakan target. Disinilah pentingnya rutinitas penilaian kinerja terhadap kontribusi karyawan yang dievaluasi atasan secara periodik atau berkala.
Target yang terlalu tinggi dan tak terjangkau akan memberikan tekanan yang terlalu besar dan akhirnya membawa perasaan apatis atau rasa malas dan penundaan. Sedangkan target yang terlalu rendah hanya akan menciptakan kinerja yang tidak optimal karena rasa bosan dan ujung-ujungnya juga bisa menimbulkan rasa malas dan penundaan (demotivasi).
Relevansi sebuah tujuan dinyatakan dengan memilih prioritas bagi sasaran-sasaran yang paling vital dan berarti bagi organisasi. Sebuah tujuan bisa saja spesifik, terukur, realistis, dan ada batas waktu, namun jika tidak relevan terhadap atasan, manajemen dan perusahaan secara keseluruhan maka tidak akan didukung penuh oleh tim kerja atau rekan/mitra kerja yang lain.
Kesesuaian dari sasaran yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi harus bermakna dan tepat waktu serta tepat guna dengan orang yang tepat pula. Dan yang terpenting adalah relevan dengan upaya, keahlian, dan kebutuhan dari sang pekerja serta kelompok kerjanya.
Kriteria terakhir dalam metode SMART adalah ukuran waktu dengan kerangka waktu dalam memulai serta tenggat waktu yang diharapkan untuk bisa menyelesaikan sasaran yang telah ditetapkan.
Perhitungan ini bisa diuraikan dengan memilah strategi menjadi taktik jangka pendek atau aktivitas harian, lalu taktik jangka menengah, dan jangka panjang atau tahunan serta lima tahunan supaya indikator-indikator yang menunjukkan kemajuan menuju pencapaian dapat dievaluasi dan dire-evaluasi.
-9-
Perencanaan strategis perusahaan yang terangkum dalam rumusan SMART ini memang memberikan kejelasan yang bisa menimbulkan motivasi awal pegawai untuk meraih sasaran-sasaran kerjanya, tapi bagaimana menjaga dan terus mendorong kinerja pegawai agar terus maksimal mengejar perkembangan dalam meraih target SMART ini?
Motivasi karyawan dalam bekerja justru jangan terlalu memikirkan angka-angka yang secara spesifik, terukur, ralistis, relevan, dan terbatas dengan waktu ini cukup untuk diketahui tapi tak bisa menjadi obsesi karena perusahaan dan para karyawannya tidak memiliki kendali penuh akan keakuratannya. Banyak faktor-faktor eksternal lainnya yang diluar kontrol manajemen seperti alam, lingkungan, tren pasar, perilaku pelanggan, perusahaan pesaing, regulator, dan sebagainya.
Lalu, bisa saja metode SMART ini berbalik, secara adil karyawan juga meminta perusahaan untuk memberikan imbalan atau bonus diluar gaji yang mencerminkan perhitungan spesifik jika target yang didapatkan melebihi harapan atau pengukuran SMART ini.
Tapi, intinya adalah agar perusahaan bisa memotivasi karyawan untuk memberikan performa yang maksimal. Maka, para karyawan harus bisa bekerja dengan ikhlas. Berusaha semaksimal mungkin sebisa dan semampu selama keahliannya memungkinkan, untuk bekerja 100% dari kapasitasnya. Dan tak perlu memikirkan target SMART lagi.
Hal ini akan menciptakan semangat perjuangan tanpa menyerah, meskipun waktu tak memungkinkan atau kemungkinan gagal tinggi, karyawan yang bekerja dengan ikhlas akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan.
Seperti atlit yang bermental juara yang tidak perduli menang-kalah terus berkompetisi semaksimal kemampuannya. Tidak seperti atlit yang bermental pecundang yang menghalalkan segala cara hanya untuk menang tapi tidak etis.
-10-
Lalu, bagaimanakah caranya agar seseorang bisa bekerja dengan Prilaku Smart? Caranya adalah dengan meminimalisir egoisme, lebih peduli pada orang lain, hasrat berkarya dengan tulus, motif tulus untuk ibadah, dengan cinta. Misalnya, karyawan yang sadar setiap saat bahwa dirinya bekerja untuk menyejahterakan keluarganya; akan ikhlas bekerja maksimal demi keluarga yang dicintainya tersebut.
Ilmu ini dalam psikologi berarti mengubah paradigma dan kerangka berpikir atau mindset. Menanamkan nilai dan budaya organisasi ke pikiran bawah sadar serta memanipulasi persepsi dan perspektif karyawan agar selalu berpandangan positif untuk bisa bekerja keras dengan ikhlas.
Memang tidak mudah atau sesederhana memutuskan satu kebijakan perusahaan. Ada beragam teori psikologis dan tips & trik motivasi yang berasal dari ilmu neurosains yang bisa diterapkan oleh atasan dan manajemen perusahaan untuk meningkatkan kekuatan mental para karyawan agar bekerja keras secara ikhlas. Saya akan membeberkannya dalam tulisan-tulisan mendatang di blog ini. Stay tuned!
- 5 Langkah Mewujudkan Berprilaku SMART
Seperti yang dijabarkan oleh Paul J.
Meyer dalam bukunya, Attitude is Everything, berikut
beberapa penjelasan mengenai karakteristik yang S.M.A.R.T dalam menetapkan
target:
1.
SPECIFIC
Kata yang pertama ini menekankan
pentingnya menetapkan target yang spesifik; benar-benar spesifik. Hindari
target yang terlalu umum atau kurang mendetail. Target tidak boleh ambigu,
harus jelas, dan dipaparkan dengan bahasa yang lugas. Misalnya, tetapkan target
seperti ini: “tingkatkan penjualan dari 500 menjadi 1000 buah apel dalam
sehari” dan hindari “tingkatkan omset dari penjualan apel per-hari”.
-11-
Untuk menetapkan tujuan yang spesifik, anda harus
menyampaikan kepada tim seluruh harapan dan keinginan dengan spesifik, mengapa
hal ini penting, siapa yang akan terlibat, dimana akan dijalankan, dan atribut
apa saja yang penting.
Suatu tujuan (target) yang spesifik
biasanya akan menjawab pertanyaan “5W” ini:
·
What: apa yang ingin saya capai?
·
Why: Mengapa harus dicapai? (alasan yang
spesifik; tujuan dan keuntungan dari pencapaian target tersebut)
·
Who: Siapa yang terlibat?
·
Where: Dimana target akan dicapai?
(identifikasi lokasi)
·
Which: Identifikasi persyaratan untuk
mencapai target dan kendala yang menghalagi tercapainya target.
2.
MEASURABLE
Kata yang kedua menekankan pentingnya
kriteria yang digunakan untuk mengukur besarnya kemajuan yang dibuat dalam
mencapai target. Filosofi yang melatar-belakangi poin ini adalah: “Jika
target tidak dapat diukur, mustahil untuk mengetahui apakah anda telah membuat
kemajuan dalam mencapai tujuan akhirnya”. Mengukur kemajuan akan membantu
tim untuk tetap berada dalam jalur yang benar, menepati tenggat waktu, dan merasakan
semangat dan euforia ketika memperoleh hasil yang menggembirakan di setiap
pencapaian yang membawa mereka lebih dekat kepada tujuan.
-12-
Target yang terukur akan mampu menjawab
salah satu pertanyaan:
·
Berapa banyak?
·
Bagaimana anda mengetahui bahwa target
tersebut telah tercapai?
3.
ATTAINABLE
Kata yang ketiga menekankan bahwa target harus
realistis dan dapat dicapai. Target tidak boleh dibuat terlalu mudah (untuk
performa standar tim anda), tapi juga tidak boleh terlalu sulit sehingga terasa
mustahil untuk dicapai. Target yang ditetapkan akan dapat dicapai jika: anda
telah menentukan apa yang paling penting, lalu mampu membayangkan
langkah-demi-langkah untuk mewujudkannya. Untuk itu, anda akan mengembangkan
perilaku, kemampuan, keahlian, dan kapasitas finansial untuk mencapainya.
Target yang attainable akan menjawab
pertanyaan seperti:
·
How: Bagaimana target tersebut akan
dicapai?
-13-
4.
RELEVANT
Kata keempat menekankan pentingnya
memilih target yang tepat. Target yang dibuat oleh bank manager untuk membuat “50
sandwich isi mentega kacang dan jeli sebelum jam 2 siang” bisa jadi
merupakan target yang Spesifik, Measurable, Attainable, dan Timely,
namun tidak Relevan. Seringkali anda membutuhkan dukungan
berbagai pihak untuk mencapai target: sumber daya, masukan dari Champion, dan
apapun yang dapat membantu meruntuhkan tembok penghalang. Target yang relevan
untuk atasan anda, tim anda, dan organisasi anda akan mendapatkan dukungan yang
anda butuhkan itu.
Target yang relevan, jika tercapai, akan mendorong
tim, departemen, dan organisasi lebih maju. Sebuah target yang mendukung atau
selaras dengan target-target lainnya akan dianggap sebagai target yang relevan.
Sebuah target yang relevan akan memberikan jawaban
‘ya’ untuk semua pertanyaan ini:
·
Apakah target ini layak diperjuangkan?
·
Apakah target ini ada di waktu yang
tepat?
·
Apakah target ini sesuai dengan
kebutuhan dan target anda yang lain?
·
Apakah anda orang yang tepat untuk
mengejar target ini?
-14-
5.
TIMELY
Kata kelima menekankan pentingnya
menepatkan target dengan kerangka waktu, yaitu memberikan deadline pencapaian
target. Komitmen kepada deadline akan membantu tim untuk tetap
fokus menjalankan pekerjaan untuk memenuhi target tepat waktu, atau bahkan
lebih cepat. Ini adalah bagian dari filosofi SMART yang melindungi target dari
serangan krisis sehari-hari yang biasa terjadi dalam organisasi. Target dengan
tenggat waktu akan menimbulkan urgensi.
Target dengan tenggat waktu akan menjawab pertanyaan
berikut:
·
Kapan?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
dalam 6 bulan dari sekarang?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
dalam 6 minggu dari sekarang?
·
Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan)
hari ini?
- Membangun Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart Dalam Pendidikan
1.Karakter adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan
kebenaran, relatif permanen dan merupakan profil hidup keseharian. Kebenaran
bukanlah sesuatu yang benar menurut pikiran manusia, melainkan ada acuan
kebenaran yakni kebenaran sesungguhnya. Apakah yang dilakukan dalam kehidupan
ini benar atau kurang benar acuannya adalah Kitab Suci. Kebenaran ilmiah tidak
boleh diputus dari kebenaran sesungguhnya. Sehingga, dalam karakter
terintegrasi tiga unsur penting yakni pikiran, perbuatan dan perilaku hidup.
Contoh: Sifat jujur sebagai karakter: berfikir jujur, berbuat jujur dan hidup
jujur - think rightly - act rigtly - live rightly
-15-
2.Karakter SMART adalah: Suka belajar, Maniak kerja,
Altruis, Religius dan Tulus. Suka belajar berarti, tekun dan rajin belajar,
mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, tidak ada hari tanpa belajar
sepanjang kehidupan. Maniak kerja, berarti profesional, trampil,
menikmati, tuntas dan perfeksionis dalam pekerjaan. Altruis berarti mengabdi
dalam bentuk perbuatan mulia, kepada orang tua, masyarakat dan bangsa
yakni memberi tanpa menerima, memprakarsai, tanpa menunggu balasan,
mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebaikan semua. Religius berarti
memelihara hubungan vertikal yakni mengasihi dan memuliakan Tuhan. Tulus
berarti keselarasan esensi kebenaran dalam pikiran, dengan perbuatan maupun
dalam kehidupan.
3.Suka belajar. Berarti tekun dan rajin belajar,
mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, tidak ada hari tanpa belajar seumur
hidup dan menjadi sosok melankolis sempurna. The end of knowledge is love. The
essence of scientific knowledge is to recognize the truth. Puncak ilmu
pengetahuan adalah mencintainya. Dan esensinya adalah mengenali kebenaran. Suka
belajar merupakan sifat keutamaan karena dengan sifat ini kebenaran semakin
dipahami. Jika hidup benar maka kehidupan semakin membaik.
4.Maniak kerja berarti profesional, trampil,
menikmati, tuntas, perfeksionis, bekerja keras, fokus pada penyelesaian
pekerjaan, ada target dan menjadi koleris yang kuat. Maniak kerja merupakan
sifat keutamaan karena dengan sifat ini kemiskinan dapat dientaskan. Saya minta
kekayaan, tetapi Tuhan memberi pikiran dan fisik untuk bekerja (I asked for
prosperity, and God gave me a brain and brawn to work).
-16-
5.Altruis berarti mengabdi dalam bentuk perbuatan
mulia, kepada orang tua, masyarakat dan bangsa yakni memberi tanpa menerima,
memprakarsai, tanpa menunggu balasan, mengorbankan kepentingan diri sendiri
demi kebaikan semua. Seseorang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, yang
utama adalah dirinya bermakna untuk orang lain, terutama orang tua. Altruis
merupakan sifat keutamaan karena ketentraman dan kedamaian utama adalah suka
menolong dan mengasihi sesama sementara kekurangan utama adalah egoisme.
6.Religius berarti memelihara hubungan vertikal yakni
mengasihi dan memuliakan Tuhan. Seluruh hidupnya memuliakan Tuhan. Dalam
bekeja, berbicara, pergaulan, memuliakan Tuhan. Religius merupakan sifat
keutamaan karena seseorang bekerja tidak hanya sebatas mendapatkan penghasilan,
melainkan memuliakan Tuhan dan kebutuhan mereka dipikirkan dan dipenuhi oleh
kebaikan Tuhan.
7.Tulus sepenuh hati dan menjadi sumber kedamaian.
Tulus berarti keselarasan esensi kebenaran dalam pikiran, dengan perbuatan
maupun dalam kehidupan citra diri bersumber dari nurani, hati yang paling
dalam. Tulus merupakan sifat keutamaan karena tulus menghasilkan kebaikan.
Contohnya, kalau mau jadi guru jadilah guru yang baik, kalau mau jadi pedagang,
jadilah pedagang yang baik. Janganlah menjadi guru yang pedagang, atau pedagang
yang guru.
-17-
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.Karakter SMART yakni suka belajar, maniak kerja, altruis, religius dan tulus.
2.Jika seseorang hidup dengan karakter SMART maka kehidupannya bergerak ke arah yang lebih baik.
3.Latihan pembentukan karakter SMART membutuhkan komitmen dan konsistensi selama periode tertentu sampai akhirnya menjadi sebuah karakter.
4. Untuk
Mewujudkan Prilaku Smart kita harus ikhlas dan mengambil sisi positif dalam Setiap
persoalan yang ada.
5.Keberhasilah Sumber daya Manusia terukur
pada kecerdasan Spritual merupakan wujud Kongkrit Kebenaran Esensi dan Prilaku Smart
.
-18-
DAFTAR
PUSTAKA
Aidh.Q.(2007).
Jangan bersedih, Edisi ke 41 . Qitsi Press. Jakarta
Jujun.Suriasumantri.S.
(2012). Filsapat Ilmu .Cetakan ke 23.Penebar Swadaya. Jakarta.
Santos.
I. (2012). 13 Wasiat Otak Kanan . Cetakan ke 17. Gramedia
Jakarta
Suhartono,
Suparlan. (2008). Filasafat Ilmu Pengetahuan. Ar-ruzz
Media .Jogjakarta.
Kiyosaki.Robert.T.
(2007).Business School. Gramedia. Jakarta
-iii-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar